5 Oleh-Oleh Khas Dieng Paling Pas Buat Reward Setelah Capek Mendaki Gunung Prau
Siapa di sini yang habis menaklukkan puncak Gunung Prau? Keren banget, salut! Aku tahu pasti kamu sekarang lagi merasakan campur aduk lelah, bangga, dan puas yang luar biasa, kan? Nah, sebelum pulang dan kembali ke rutinitas, jangan buru-buru. Ada satu tradisi lagi yang wajib kita lestarikan: berburu oleh-oleh khas Dieng. Anggap saja ini hadiah spesial buat diri sendiri setelah perjuangan mendaki yang epik itu!
Dieng itu bukan cuma soal pemandangan bak negeri di atas awan. Tapi juga surga tersembunyi dengan segudang kuliner dan cinderamata yang unik. Percayalah, oleh-oleh dari sini bisa jadi cerita seru buat teman dan keluarga di rumah. Sudah siap mengintip apa saja yang wajib kamu bawa pulang?
Manisan Carica Si Pepaya Gunung yang Ikonik
Begitu mendengar Dieng, pasti nama carica langsung terlintas di benak kita. Jujur saja, buah mungil ini memang sudah jadi ikon wajib! Bentuknya mirip pepaya tapi versi mini, dan hanya bisa tumbuh subur di dataran tinggi yang dingin seperti Dieng ini, lho.
Paling sering, carica diolah jadi manisan segar dalam sirup yang manis asamnya pas. Bayangkan, setelah berpeluh mendaki, segarnya manisan carica ini bisa langsung bikin semangat balik lagi! Sekarang juga ada varian lain seperti keripik, selai, atau jus botolan.
Kalau aku cek, harga manisan carica mini cup bisa kamu dapatkan mulai dari sekitar Rp 4.000 saja per cup, sampai ada juga paket hemat yang harganya Rp 157.000 untuk beberapa dus. Pastikan kamu mampir ke toko oleh-oleh lokal atau seperti Saerah Dieng yang punya banyak varian carica ini.
Purwaceng Herbal Ajaib Peningkat Stamina
Mendaki Prau butuh stamina ekstra, kan? Nah, oleh-oleh satu ini cocok banget buat menjaga vitalitas tubuhmu setelah capek-capek. Namanya purwaceng, tanaman herbal khas Dieng yang sering dijuluki “ginseng Jawa”.
Khasiatnya banyak, mulai dari menghangatkan badan, menghilangkan pegal-pegal, sampai dipercaya jadi “obat kuat tradisional”. Kamu bisa pilih purwaceng dalam bentuk serbuk minuman, kapsul, teh, atau bahkan kopi. Bayangkan, menyeruput kopi purwaceng hangat di pagi hari, pasti tubuh terasa bugar lagi!
Untuk harga, purwaceng bubuk 50 gram bisa kamu beli sekitar Rp 9.100. Kalau mau yang lebih banyak, akar purwaceng 100 gram ada di kisaran Rp 12.000. Beberapa merek kopi purwaceng juga tersedia dengan harga mulai dari Rp 15.500. Ini investasi kesehatan yang oke, bukan?
Mie Ongklok Instan Rasa Juara dari Wonosobo
Siapa yang tidak kenal Mie Ongklok? Kuliner legendaris ini adalah salah satu yang paling dicari kalau kamu ke Dieng atau Wonosobo. Kuahnya yang kental, gurih, dan sedikit manis itu lho, bikin nagih!
Biasanya disajikan hangat dengan sate sapi dan tempe kemul, sungguh perpaduan yang sempurna di tengah udara dingin Dieng. Eits, jangan khawatir tidak bisa dibawa pulang. Sekarang banyak banget tersedia mie ongklok instan atau bumbu kemasan yang praktis.
Harga sebungkus mie ongklok instan rata-rata sekitar Rp 9.500 sampai Rp 22.000 saja. Cocok buat stok di rumah atau buat hadiah teman yang penasaran sama rasa otentik Dieng. Dijamin langsung teringat lagi momen mendakimu!
Keripik Kentang Renyah Camilan Khas Dataran Tinggi
Dataran Tinggi Dieng itu memang surganya kentang. Produksinya melimpah dan kualitasnya jempolan. Selain kentang segar, olahan keripik kentang khas Dieng ini wajib banget kamu coba sebagai camilan atau oleh-oleh.
Teksturnya renyah dengan rasa gurih yang bikin lidah bergoyang. Ada berbagai varian rasa juga, kadang ada yang pedas, atau yang original dengan bumbu khas. Keripik kentang ini sangat praktis buat bekal perjalanan pulang atau teman santai di rumah.
Untuk kentang segarnya, harga 500 gram mulai dari sekitar Rp 6.470, sementara 1 kg bisa mencapai Rp 28.999, tergantung kualitas dan jenisnya. Keripik kentang kemasan 100 gram biasanya memiliki harga yang terjangkau dan mudah ditemukan di berbagai toko oleh-oleh.
Tempe Kemul Gorengan Selimut Gurih
Pernah dengar tempe mendoan? Nah, tempe kemul ini saudaranya tapi dengan sentuhan khas Dieng. “Kemul” dalam bahasa Jawa berarti selimut, karena tempenya diselimuti tepung tebal yang digoreng sampai renyah dan garing.
Rasanya yang gurih paling pas disantap hangat-hangat, apalagi dicocol sambal atau cabai rawit. Dijamin bikin lupa dinginnya Dieng! Uniknya, sekarang tempe kemul juga tersedia dalam bentuk kering kemasan, jadi bisa awet dan praktis dibawa pulang sebagai camilan.
Mencari tempe kemul tidak akan sulit. Banyak pedagang kaki lima atau toko oleh-oleh yang menjualnya, terutama di sekitar area wisata. Ini adalah camilan rakyat yang tak lekang oleh waktu, dan sempurna untuk mengenang kehangatan Dieng.
Dimana Mencari Oleh-Oleh Khas Dieng Ini
Tentu saja, kamu tidak perlu pusing mencari harta karun oleh-oleh ini. Sepanjang jalan utama di Dieng atau Wonosobo, banyak sekali toko-toko yang menjajakan. Kalau mau yang harganya lebih bersahabat, coba mampir ke toko oleh-oleh lokal di sekitar Desa Dieng Kulon.
Salah satu rekomendasi terbaik yang banyak menawarkan pilihan adalah Saerah Dieng. Toko ini berlokasi di Jalan Dieng Kulon, Karangsari, Kecamatan Batur, Banjarnegara. Jam bukanya juga nyaman banget, dari pukul 07.30 sampai 22.00 WIB setiap hari. Di sana, kamu bisa menemukan semua daftar oleh-oleh di atas, bahkan souvenir menarik lainnya seperti gelang, gantungan kunci, atau syal bertuliskan “Dieng Plateau”.
Jadi, setelah keringat mengucur di Gunung Prau, jangan lupakan oleh-oleh khas Dieng ini, ya. Ini bukan cuma barang, tapi juga cerita, pengalaman, dan sepotong kenangan indah dari Negeri di Atas Awan. Selamat berburu dan menikmati!


